Showing posts with label 5. Show all posts
Showing posts with label 5. Show all posts
Sunday, December 22, 2013
5 Film Animasi Dengan Pendapatan Tertinggi di Dunia
Film animasi tidak hanya bergerak kartun gambar yang menghibur anak-anak . Film animasi telah naik sampai ke level baru yang mampu menghibur seluruh dunia. Saat ini film animasi datang dengan anggaran yang sangat tinggi yang diproduksi oleh perusahaan produksi yang sangat besar seperti Disney dan DreamWorks. Sebuah respon kualitas yang sangat tinggi untuk film-film juga telah diterima secara global, dengan film-film animasi mendapatkan penghasilan yang besar. Mereka tidak hanya yang yang hanya menghibur anak-anak tumbuh muda, tetapi juga orang-orang yang membuatnymempunyai banyak uang di Box Office.
Berikut adalah Film-film animasi dengan pendapatan yang tinggi :
Berikut adalah Film-film animasi dengan pendapatan yang tinggi :
1.Shrek 2

2.Finding Nemo
Finding Nemo yang diproduksi oleh Disney, dan dirilis pada tahun 2003, peringkat kedua dalam daftar 10 film teratas animasi dengan pendapatan terbaik, mendapatkan jumlah kotor US $ 864.625.978 .
3.The Lion King
3.The Lion King
The Lion King, produksi Disney peringkat keempat, dirilis pada tahun 2004, membuat jumlah US $ 783.841.776. Film ini Lion King sangat populer yang bahkan serial TV yang sangat populer.
4.Ice Age: The Meltdown
4.Ice Age: The Meltdown
Yang satu ini adalah produksi dari 20th Century Fox Animasi.. Ice Age: Meltdown ini dirilis pada tahun 2006, membuat pendapatan kotor $ 651.564.512.
5.Kung Fu Panda
5.Kung Fu Panda

Kung Fu Panda yang diproduksi oleh DreamWorks, dirilis pada tahun 2008, penghasilan US $ 631.908.951, peringkat keenam dalam daftar Top 10 Film Animasi dengan pendapatan Terbaik. Kung Fu Panda memiliki anggaran produksi sebesar $ 130 juta, namun diterima hampir lima kali lipat di seluruh dunia.
Sunday, November 3, 2013
Misteri Penampakan Awan Aneh di Jogja 5 juni 2012
Fenomena awan aneh kembali muncul di Yogyakarta, tepatnya pada hari selasa 5 juni 2012 pukul 7 pagi. Awan ini tidak berlangsung lama hanya sekitar 3 menit lalu secara perlahan awan tersebut mulai memudar / menghilang. Banyak spekulasi yang mengatakan bahwa fenomena awan seperti ini adalah salah satu pertanda akan datangnya bencana, terutama bencana gempa bumi.
Penasaran ingin lihat seperti apa gambarnya ? silahkan langsung saja cek dibawah ini.
Mengenai apakah ada keterkaitan antara awan aneh dengan akan datangnya bencana belum ada yang bisa memastikan. Para peneliti gempa pun belum bisa mengatakan secara pasti apakah ada kaitan antara awan aneh seperti diatas dengan akan datangnya gempa bumi. Para peneliti dari Jepang yang melakukan penelitian tentang hal ini dan memang ada hal yang mengarah ke gempa bumi tetapi belum bisa dipastikan, untuk lebih lengkapnya bisa dibaca di US.WAP
Sekedar mengingat kembali, sehari sebelum gempa besar yang melanda yogyakarta pada 27 mei 2006, muncul pula awan seperti ini, cuma berbeda bentuknya, gambar berikut ini adalah gambar fenomena alam yang terjadi di Yogyakarta tepat sehari sebelum gempa besar melanda kota yogyakarta.
Silahkan anda mengambil kesimpulan sendiri, sebagai manusia kita hanya bisa berdoa saja.
ReadFull Article ..
Penasaran ingin lihat seperti apa gambarnya ? silahkan langsung saja cek dibawah ini.
![]() |
| fenomena awan aneh |
![]() |
| awan aneh jogja |
![]() |
| fenomena awan aneh |
Mengenai apakah ada keterkaitan antara awan aneh dengan akan datangnya bencana belum ada yang bisa memastikan. Para peneliti gempa pun belum bisa mengatakan secara pasti apakah ada kaitan antara awan aneh seperti diatas dengan akan datangnya gempa bumi. Para peneliti dari Jepang yang melakukan penelitian tentang hal ini dan memang ada hal yang mengarah ke gempa bumi tetapi belum bisa dipastikan, untuk lebih lengkapnya bisa dibaca di US.WAP
Sekedar mengingat kembali, sehari sebelum gempa besar yang melanda yogyakarta pada 27 mei 2006, muncul pula awan seperti ini, cuma berbeda bentuknya, gambar berikut ini adalah gambar fenomena alam yang terjadi di Yogyakarta tepat sehari sebelum gempa besar melanda kota yogyakarta.
![]() |
| fenomena awan sebelum gempa jogja |
Silahkan anda mengambil kesimpulan sendiri, sebagai manusia kita hanya bisa berdoa saja.
sumber: kompasiana.com
Berikut ini referensi lain dari vivanews.com mengenai adanya pertanda dari "awan aneh" sebelum bencana gempa pada berbagai kejadian dan tampat.
VIVAnews - Empat fenomena alam terjadi dalam kurun 24 jam sehingga memunculkan spekulasi mereka saling berkaitan. Fenomena pertama, awan tegak lurus siang hari di Kota Padang; kedua, gempa bumi berpusat di lepas pantai Sukabumi pukul 18.18; ketiga, bulan purnama; dan keempat, pagi ini, di Kota Yogyakarta, muncul fenomena bak awan terbelah.
Apakah keempatnya berkaitan?
Ahli Paleotsunami Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Eko Yulianto, mengatakan, hubungan antara supermoon dengan gempa masih spekulatif. "Belum ada pola yang bisa dijadikan patokan," kata dia kepada VIVAnews, Senin 4 Juni 2012 malam.
Dia menceritakan, analisa pengaruh daya tarik bulan dan gempa bumi sudah lama diteliti para ahli. "Sejak tahun 1960-an, USGS sudah mengkajinya. Belum bisa ditemukan pola hubungan dengan hubungan pasti," ujar dia.
Demikian pula dengan awan tegak lurus yang diduga pertanda gempa, sama spekulatifnya. "Bentuk tegak lurus tergantung posisi awan, dan posisi yang melihatnya," kata dia.
Sementara, Profesor Riset Astronomi Astrofisika Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN), Thomas Djamaluddin, mengatakan, bulan purnama bukan penyebab tapi bisa jadi pemicu gempa.
Pendapat USGS
Sementara, ahli geologi USGS, Bill Burton mengatakan, ada banyak faktor yang mempengaruhi aktivitas seismik. Juga, "ada perbedaan aktivitas tektonik selama fase bulan yang berbeda."
Meski mengakui, pasang surut laut bisa menimbulkan efek kecil pada aktivitas tektonik, namun apakah itu bisa menyebabkan gempa, apalagi dengan kekuatan dahsyat, masih jadi perdebatan. "Beberapa gempa kecil yang dangkal mungkin bisa terjadi saat purnama atau supermoon." Peningkatan tekanan air yang disebabkan oleh fase lunar dapat menyebabkan tremor yang sangat kecil."
"Mungkin ada sedikit dorongan yang mengakibatkan lempeng tektonik menyelinap," timpal Johnston. "Namun, secara keseluruhan, efeknya bisa diabaikan. Kecuali jika mengambil kesimpulan berdasarkan sepuluh ribu data gempa bumi, Anda dapat menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara gempa dan pergerakan bulan. Tapi kalau hanya berdasarkan satu gempa saja, jangan."
Sementara soal awan aneh yang diduga pertanda gempa, situs USGS menyebut, pada abad ke-4 sebelum Masehi, Aristoteles mengajukan teori bahwa gempa disebabkan angin yang terperangkap di gua-gua di bawah tanah.
Pergerakan angin yang mendorong atap gua diyakini menyebabkan gempa kecil, sementara gempa besar diakibatkan udara pecah di permukaan tanah. Teori ini jadi dasar bagi teori cuaca gempa, di mana diyakini cuaca akan panas dan tenang sebelum gempa terjadi.
Teori yang lebih modern mengaitkan formasi awan tertentu sebagai pertanda gempa. Ide yang ditolak sebagian besar geolog.
Temuan di Jepang
Gempa 9,0 skala Richter dan tsunami yang menerjang Jepang Jumat, 11 Maret 2011, menjadi inspirasi para ilmuwan untuk menemukan sistem peringatan dini bencana yang lebih akurat. Salah satu isu besar adalah benarkah langit memberikan pertanda sebelum malapetaka datang?
Seperti dimuat Daily Mail, para ilmuwan dari University of Illinois menangkap pertanda atmosfer terkait tsunami Jepang berupa pijaran udara (airglow) yang ditangkap sebuah observatorium di Pulau Hawaii. Gambaran tersebut ditemukan pada ketinggian 250 kilometer di atas permukaan Bumi, sekitar satu jam sebelum gelombang air raksasa menghantam perairan Jepang. Pijaran udara adalah lapisan kehijauan yang ditemukan saat kombinasi molekul dipisahkan oleh cahaya matahari.
Penemuan, yang dilaporkan dalam jurnal Geophysical Research Letters, juga menegaskan teori yang dikembangkan pada tahun 1970-an. Studi-studi ini menunjukkan bahwa tsunami bisa diobservasi dari bagian atas atmosfer, namun sampai saat ini baru bisa didemonstrasikan menggunakan sinyal radio.
Studi ini fokus pada fakta bahwa tsunami menghasilkan gelombang gravitasi atmosfer saat ombak melaju melintasi lautan. Gelombang-gelombang tsunami memiliki potensi untuk meregang beberapa kilometer ke langit dan menyebabkan perubahan yang dapat dicitrakan karena penurunan densitas udara.
Tim University of Illinois dipimpin oleh Jonathan Makela, seorang profesor teknik listrik dan komputer, membuat gambaran tersebut. Setelah itu, Makela, bersama mahasiswa pascasarjana Thomas Gehrels, bergabung dengan tim di Prancis dan Brasil di New York University untuk melakukan analisis rinci gambaran tersebut.
Sebelumnya, profesor ilmu bumi dari Chapman University di California, Dimitar Ouzounov, mengatakan bahwa ada keanehan di langit Jepang sebelum tsunami. Atmosfer di atas episentrum gempa Jepang mengalami perubahan tak biasa dalam beberapa hari menjelang bencana.
Pendapatnya itu didasari penelitian terhadap data satelit terkait gempa yang mengguncang Jepang pada 11 Maret 2011: ada anomali atmosfer di atas episentrum gempa Jepang beberapa hari menjelang bencana.
Sebelum gempa bumi terjadi, patahan yang tertekan akan mengeluarkan lebih banyak gas, khususnya gas radon yang tidak berwarna dan tak berbau. Setelah berada di ionosfer, gas radon melepaskan molekul udara elektronnya, memisahkan partikel bermuatan negatif (elektron bebas) dan partikel bermuatan positif. Partikel-partikel bermuatan yang juga disebut ion, lantas menarik air dalam proses melepaskan panas. Dan, para ilmuwan bisa mendeteksi panas ini dalam bentuk radiasi inframerah.
Menggunakan data satelit, Ouzounov dan para koleganya mengawasi perubahan atmosfer yang terjadi beberapa hari sebelum gempa Jepang. Mereka menemukan, konsentrasi elektron dalam ionosfer meningkat, demikian juga dengan radiasi inframerah. Pada 8 Maret 2011, tiga hari sebelum gempa, adalah saat yang paling anomali.
Para peneliti juga telah mengumpulkan data lebih dari 100 gempa di Asia dan Taiwan. Menurut Ouzounov, mereka menemukan korelasi yang sama untuk gempa yang magnitudenya lebih besar dari 5,5 skala Richter dengan kedalaman kurang dari 50 kilometer. Tim saat ini sedang berusaha melibatkan para ahli gempa Jepang dan seluruh dunia dalam sebuah misi ambisius: pemantauan atmosfer internasional sebagai upaya mitigasi gempa. (umi)
Berikut ini referensi lain dari vivanews.com mengenai adanya pertanda dari "awan aneh" sebelum bencana gempa pada berbagai kejadian dan tampat.
![]() |
| Awan aneh yang terlihat sebelum gempa di Kobe tahun 1995 (flickrs.com |
VIVAnews - Empat fenomena alam terjadi dalam kurun 24 jam sehingga memunculkan spekulasi mereka saling berkaitan. Fenomena pertama, awan tegak lurus siang hari di Kota Padang; kedua, gempa bumi berpusat di lepas pantai Sukabumi pukul 18.18; ketiga, bulan purnama; dan keempat, pagi ini, di Kota Yogyakarta, muncul fenomena bak awan terbelah.
Apakah keempatnya berkaitan?
Ahli Paleotsunami Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Eko Yulianto, mengatakan, hubungan antara supermoon dengan gempa masih spekulatif. "Belum ada pola yang bisa dijadikan patokan," kata dia kepada VIVAnews, Senin 4 Juni 2012 malam.
Dia menceritakan, analisa pengaruh daya tarik bulan dan gempa bumi sudah lama diteliti para ahli. "Sejak tahun 1960-an, USGS sudah mengkajinya. Belum bisa ditemukan pola hubungan dengan hubungan pasti," ujar dia.
Demikian pula dengan awan tegak lurus yang diduga pertanda gempa, sama spekulatifnya. "Bentuk tegak lurus tergantung posisi awan, dan posisi yang melihatnya," kata dia.
Sementara, Profesor Riset Astronomi Astrofisika Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN), Thomas Djamaluddin, mengatakan, bulan purnama bukan penyebab tapi bisa jadi pemicu gempa.
Pendapat USGS
Sementara, ahli geologi USGS, Bill Burton mengatakan, ada banyak faktor yang mempengaruhi aktivitas seismik. Juga, "ada perbedaan aktivitas tektonik selama fase bulan yang berbeda."
Meski mengakui, pasang surut laut bisa menimbulkan efek kecil pada aktivitas tektonik, namun apakah itu bisa menyebabkan gempa, apalagi dengan kekuatan dahsyat, masih jadi perdebatan. "Beberapa gempa kecil yang dangkal mungkin bisa terjadi saat purnama atau supermoon." Peningkatan tekanan air yang disebabkan oleh fase lunar dapat menyebabkan tremor yang sangat kecil."
"Mungkin ada sedikit dorongan yang mengakibatkan lempeng tektonik menyelinap," timpal Johnston. "Namun, secara keseluruhan, efeknya bisa diabaikan. Kecuali jika mengambil kesimpulan berdasarkan sepuluh ribu data gempa bumi, Anda dapat menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara gempa dan pergerakan bulan. Tapi kalau hanya berdasarkan satu gempa saja, jangan."
Sementara soal awan aneh yang diduga pertanda gempa, situs USGS menyebut, pada abad ke-4 sebelum Masehi, Aristoteles mengajukan teori bahwa gempa disebabkan angin yang terperangkap di gua-gua di bawah tanah.
Pergerakan angin yang mendorong atap gua diyakini menyebabkan gempa kecil, sementara gempa besar diakibatkan udara pecah di permukaan tanah. Teori ini jadi dasar bagi teori cuaca gempa, di mana diyakini cuaca akan panas dan tenang sebelum gempa terjadi.
Teori yang lebih modern mengaitkan formasi awan tertentu sebagai pertanda gempa. Ide yang ditolak sebagian besar geolog.
Temuan di Jepang
Gempa 9,0 skala Richter dan tsunami yang menerjang Jepang Jumat, 11 Maret 2011, menjadi inspirasi para ilmuwan untuk menemukan sistem peringatan dini bencana yang lebih akurat. Salah satu isu besar adalah benarkah langit memberikan pertanda sebelum malapetaka datang?
Seperti dimuat Daily Mail, para ilmuwan dari University of Illinois menangkap pertanda atmosfer terkait tsunami Jepang berupa pijaran udara (airglow) yang ditangkap sebuah observatorium di Pulau Hawaii. Gambaran tersebut ditemukan pada ketinggian 250 kilometer di atas permukaan Bumi, sekitar satu jam sebelum gelombang air raksasa menghantam perairan Jepang. Pijaran udara adalah lapisan kehijauan yang ditemukan saat kombinasi molekul dipisahkan oleh cahaya matahari.
Penemuan, yang dilaporkan dalam jurnal Geophysical Research Letters, juga menegaskan teori yang dikembangkan pada tahun 1970-an. Studi-studi ini menunjukkan bahwa tsunami bisa diobservasi dari bagian atas atmosfer, namun sampai saat ini baru bisa didemonstrasikan menggunakan sinyal radio.
Studi ini fokus pada fakta bahwa tsunami menghasilkan gelombang gravitasi atmosfer saat ombak melaju melintasi lautan. Gelombang-gelombang tsunami memiliki potensi untuk meregang beberapa kilometer ke langit dan menyebabkan perubahan yang dapat dicitrakan karena penurunan densitas udara.
Tim University of Illinois dipimpin oleh Jonathan Makela, seorang profesor teknik listrik dan komputer, membuat gambaran tersebut. Setelah itu, Makela, bersama mahasiswa pascasarjana Thomas Gehrels, bergabung dengan tim di Prancis dan Brasil di New York University untuk melakukan analisis rinci gambaran tersebut.
Sebelumnya, profesor ilmu bumi dari Chapman University di California, Dimitar Ouzounov, mengatakan bahwa ada keanehan di langit Jepang sebelum tsunami. Atmosfer di atas episentrum gempa Jepang mengalami perubahan tak biasa dalam beberapa hari menjelang bencana.
Pendapatnya itu didasari penelitian terhadap data satelit terkait gempa yang mengguncang Jepang pada 11 Maret 2011: ada anomali atmosfer di atas episentrum gempa Jepang beberapa hari menjelang bencana.
Sebelum gempa bumi terjadi, patahan yang tertekan akan mengeluarkan lebih banyak gas, khususnya gas radon yang tidak berwarna dan tak berbau. Setelah berada di ionosfer, gas radon melepaskan molekul udara elektronnya, memisahkan partikel bermuatan negatif (elektron bebas) dan partikel bermuatan positif. Partikel-partikel bermuatan yang juga disebut ion, lantas menarik air dalam proses melepaskan panas. Dan, para ilmuwan bisa mendeteksi panas ini dalam bentuk radiasi inframerah.
Menggunakan data satelit, Ouzounov dan para koleganya mengawasi perubahan atmosfer yang terjadi beberapa hari sebelum gempa Jepang. Mereka menemukan, konsentrasi elektron dalam ionosfer meningkat, demikian juga dengan radiasi inframerah. Pada 8 Maret 2011, tiga hari sebelum gempa, adalah saat yang paling anomali.
Para peneliti juga telah mengumpulkan data lebih dari 100 gempa di Asia dan Taiwan. Menurut Ouzounov, mereka menemukan korelasi yang sama untuk gempa yang magnitudenya lebih besar dari 5,5 skala Richter dengan kedalaman kurang dari 50 kilometer. Tim saat ini sedang berusaha melibatkan para ahli gempa Jepang dan seluruh dunia dalam sebuah misi ambisius: pemantauan atmosfer internasional sebagai upaya mitigasi gempa. (umi)
Thursday, October 31, 2013
5 Metode dan Cara Perpanjang Masa Aktif Baterai iPhone
BELAKANGAN ini laporan dari situs teknologi menyebutkan handset terbaru Apple, iPhone 4S, mengalami cacat baterai.
Namun Apple mengonfirmasi kesalahan itu terdapat pada iOS 5, bukan di perangkatnya. Jika Anda sudah mengaplikasikan iOS 5, berikut ini lima hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan daya hidup baterai iPhone.
1. Atur zona waktu secara manual
Default di iOS 5 otomatis menyesuaikan zona waktu berdasarkan panggilan berulang ke radio GPS yang menguras baterai besar. Untuk menonaktifkannya, masuklah ke menu Settings->Location Services->System Services->Setting Time Zone. Perlu diketahui pengaturan ini tidak ada di bagian Date & Time.
2. Nonaktifkan Layanan Lokasi
Anda dapat menonaktifkan Location Services untuk melestarikan hidup baterai. Tetapi Anda harus mengaktifkan kembali navigasi GPS dan tugas lain bila diperlukan.
3. Nonaktifkan notifikasi
Notifikasi bisa menguras baterai. Selain itu matikan fungsi WiFi, Bluetooth dan GPS bila tidak diperlukan. Di iOS 5, Apple menghapus notifikasi global di menu Settings. Jadi Anda tidak bisa menonaktifkan mereka semua dalam satu tembakan.
Untuk melakukannya Settings->Notifications tekan kategori tertentu (Phone, Messages, Reminders) atau aplikasi (Walgreens, Zillow dan sebagainya) dan menuju Notification Center di atas Off.
4. Periksa email secara manual
Atur semua akun dunia maya Anda untuk update secara manual. Hal ini berlaku sama untuk update Facebook dan Twitter .
5. Periksa pembaruan peranti lunak
Anda dapat mengecek pembaruan sistem operasi menggunakan kabel USB dan sinkronisasi iTunes. Pergi ke Settings->General->Software Update. Apple baru-baru ini mengirim iOS 5.0.1 ke pengembang. Pembaruan sistem operasi iOS 5 itu meliputi perbaikan bug untuk daya tahan baterai. (*/OL-14)
Namun Apple mengonfirmasi kesalahan itu terdapat pada iOS 5, bukan di perangkatnya. Jika Anda sudah mengaplikasikan iOS 5, berikut ini lima hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan daya hidup baterai iPhone.
1. Atur zona waktu secara manual
Default di iOS 5 otomatis menyesuaikan zona waktu berdasarkan panggilan berulang ke radio GPS yang menguras baterai besar. Untuk menonaktifkannya, masuklah ke menu Settings->Location Services->System Services->Setting Time Zone. Perlu diketahui pengaturan ini tidak ada di bagian Date & Time.
2. Nonaktifkan Layanan Lokasi
Anda dapat menonaktifkan Location Services untuk melestarikan hidup baterai. Tetapi Anda harus mengaktifkan kembali navigasi GPS dan tugas lain bila diperlukan.
3. Nonaktifkan notifikasi
Notifikasi bisa menguras baterai. Selain itu matikan fungsi WiFi, Bluetooth dan GPS bila tidak diperlukan. Di iOS 5, Apple menghapus notifikasi global di menu Settings. Jadi Anda tidak bisa menonaktifkan mereka semua dalam satu tembakan.
Untuk melakukannya Settings->Notifications tekan kategori tertentu (Phone, Messages, Reminders) atau aplikasi (Walgreens, Zillow dan sebagainya) dan menuju Notification Center di atas Off.
4. Periksa email secara manual
Atur semua akun dunia maya Anda untuk update secara manual. Hal ini berlaku sama untuk update Facebook dan Twitter .
5. Periksa pembaruan peranti lunak
Anda dapat mengecek pembaruan sistem operasi menggunakan kabel USB dan sinkronisasi iTunes. Pergi ke Settings->General->Software Update. Apple baru-baru ini mengirim iOS 5.0.1 ke pengembang. Pembaruan sistem operasi iOS 5 itu meliputi perbaikan bug untuk daya tahan baterai. (*/OL-14)
Sunday, October 27, 2013
Adu Jatuh Galaxy S4 VS iPhone 5
Performa dari smartphone teranyar Samsung, Galaxy S4, bisa dikatakan jauh melebihi smartphone milik Apple, iPhone 5. Ini berdasarkan aplikasi benchmark Geekbench 2, Samsung Galaxy S4 berhasil unggul jauh dari iPhone 5 dengan skor 3.163. Adapun nilai yang didapatkan oleh iPhone 5 di pengujian ini hanya ada di angka 1.596.

Dari hasil benchmark tersebut, terlihat Galaxy S4 memang mampu mengungguli iPhone 5 dari segi perfoma. Namun, berdasarkan sebuah tes jatuh (drop test) yang dilakukan oleh situs TechSmartt, diketahui bahwa iPhone 5 lebih tangguh dibandingkan Samsung Galaxy S4.
Tes jatuh tersebut dilakukan beberapa kali dari ketinggian yang berbeda. Untuk tes ini, situs tersebut menggunakan tiga buah kamera sekaligus, yaitu kamera yang diarahkan ke si penguji, sebuah kamera GoPro yang ditaruh di aspal, dan kamera masing-masing perangkat.
Sekadar informasi, kedua perangkat tersebut masih sama-sama dalam keadaan baru.
Pengujian pertama dilakukan dari ketinggian sekitar saku celana orang dewasa. Pengujian dari ketinggian ini seperti ingin memperlihatkan, bagaimana jika perangkat terjatuh apabila dikeluarkan dari saku celana.
Hasilnya, kedua perangkat tersebut tidak mengalami kerusakan apa pun, keduanya masih bisa bekerja dengan baik. Tidak terlihat ada goresan yang terlalu berarti di bagian body Galaxy S4. Sedangkan di iPhone 5, terlihat cat casing sedikit terkelupas.
Pengujian kedua dilakukan dari ketinggian sekitar dada. Ini merepresentasikan kegiatan pengguna saat sedang mengetik SMS atau sedang chatting. Pengujian kedua ini pun tidak mengakibatkan kerusakan yang berarti bagi kedua perangkat.
Nah, baru di pengujian ketiga, tes jatuh ini berdampak besar bagi salah satu dari perangkat ini. Dijatuhkan dari ketinggian sekitar 7 kaki atau sekitar 2 meter, bagian bawah layar Samsung Galaxy S4 mengalami keretakan yang cukup parah. Sedangkan untuk iPhone 5, hanya terjadi sedikit "luka" di bagian casing. Layar perangkat tersebut tetap mulus.
Hebatnya, kedua perangkat ini masih dapat bekerja dengan baik.
Ingin lebih ekstrim lagi, si penguji membawa kedua perangkat tersebut ke ketinggian 10 kaki atau setinggi lantai 1 sebuah bangunan.
Pada pengujian kali ini, Samsung Galaxy S4 gagal menunjukkan kekekuatannya. Perangkat ini retak di bagian atas layar. Hal tersebut diperparah dengan berhenti beroperasinya atau matinya perangkat tersebut.
Bagaimana dengan iPhone 5? Tidak terjadi kerusakan yang berarti, hanya ada sedikit retak di bagian bawah layar dan bagian belakang perangkat.
Tidak puas dengan kondisi tersebut, si penguji kembali melempar iPhone 5 dari posisi yang sama. Hasilnya, iPhone 5 tetap mampu bertahan dengan baik.
Sebagai tahap pengujian terakhir, penguji menggilas produk ini dengan menggunakan sebuah mobil sedan. Hasilnya? Walaupun tidak didesain untuk kejadian ekstrim, perangkat iPhone 5 mampu menunjukkan ketangguhannya. Bagian layar iPhone 5 terlihat tetap mulus dan perangkat tersebut mampu bekerja dengan baik.
Dari hasil tes, terlihat iPhone 5 memang lebih tangguh dibandingkan Samsung Galaxy S4. Namun, satu hal yang harus dicatat, keduanya tidak didesain untuk kondisi ekstrim, sehingga hasil dari tes tersebut akan sangat jarang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
Berikut ini video Galaxy S4 VS iPhone 5
Sumber: http://tekno.kompas.com/read/2013/05/01/16500970/adu.jatuh.galaxy.s4.vs.iphone.5.mana.lebih.kuat
ReadFull Article ..

Dari hasil benchmark tersebut, terlihat Galaxy S4 memang mampu mengungguli iPhone 5 dari segi perfoma. Namun, berdasarkan sebuah tes jatuh (drop test) yang dilakukan oleh situs TechSmartt, diketahui bahwa iPhone 5 lebih tangguh dibandingkan Samsung Galaxy S4.
Tes jatuh tersebut dilakukan beberapa kali dari ketinggian yang berbeda. Untuk tes ini, situs tersebut menggunakan tiga buah kamera sekaligus, yaitu kamera yang diarahkan ke si penguji, sebuah kamera GoPro yang ditaruh di aspal, dan kamera masing-masing perangkat.
Sekadar informasi, kedua perangkat tersebut masih sama-sama dalam keadaan baru.
Pengujian pertama dilakukan dari ketinggian sekitar saku celana orang dewasa. Pengujian dari ketinggian ini seperti ingin memperlihatkan, bagaimana jika perangkat terjatuh apabila dikeluarkan dari saku celana.
Hasilnya, kedua perangkat tersebut tidak mengalami kerusakan apa pun, keduanya masih bisa bekerja dengan baik. Tidak terlihat ada goresan yang terlalu berarti di bagian body Galaxy S4. Sedangkan di iPhone 5, terlihat cat casing sedikit terkelupas.
Pengujian kedua dilakukan dari ketinggian sekitar dada. Ini merepresentasikan kegiatan pengguna saat sedang mengetik SMS atau sedang chatting. Pengujian kedua ini pun tidak mengakibatkan kerusakan yang berarti bagi kedua perangkat.
Nah, baru di pengujian ketiga, tes jatuh ini berdampak besar bagi salah satu dari perangkat ini. Dijatuhkan dari ketinggian sekitar 7 kaki atau sekitar 2 meter, bagian bawah layar Samsung Galaxy S4 mengalami keretakan yang cukup parah. Sedangkan untuk iPhone 5, hanya terjadi sedikit "luka" di bagian casing. Layar perangkat tersebut tetap mulus.
Hebatnya, kedua perangkat ini masih dapat bekerja dengan baik.
Ingin lebih ekstrim lagi, si penguji membawa kedua perangkat tersebut ke ketinggian 10 kaki atau setinggi lantai 1 sebuah bangunan.
Pada pengujian kali ini, Samsung Galaxy S4 gagal menunjukkan kekekuatannya. Perangkat ini retak di bagian atas layar. Hal tersebut diperparah dengan berhenti beroperasinya atau matinya perangkat tersebut.
Bagaimana dengan iPhone 5? Tidak terjadi kerusakan yang berarti, hanya ada sedikit retak di bagian bawah layar dan bagian belakang perangkat.
Tidak puas dengan kondisi tersebut, si penguji kembali melempar iPhone 5 dari posisi yang sama. Hasilnya, iPhone 5 tetap mampu bertahan dengan baik.
Sebagai tahap pengujian terakhir, penguji menggilas produk ini dengan menggunakan sebuah mobil sedan. Hasilnya? Walaupun tidak didesain untuk kejadian ekstrim, perangkat iPhone 5 mampu menunjukkan ketangguhannya. Bagian layar iPhone 5 terlihat tetap mulus dan perangkat tersebut mampu bekerja dengan baik.
Dari hasil tes, terlihat iPhone 5 memang lebih tangguh dibandingkan Samsung Galaxy S4. Namun, satu hal yang harus dicatat, keduanya tidak didesain untuk kondisi ekstrim, sehingga hasil dari tes tersebut akan sangat jarang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
Berikut ini video Galaxy S4 VS iPhone 5
Sumber: http://tekno.kompas.com/read/2013/05/01/16500970/adu.jatuh.galaxy.s4.vs.iphone.5.mana.lebih.kuat
Subscribe to:
Posts (Atom)




